Ex Me Ipsa Renata Sum dan Mano in Fica

August 5th, 2010

Gedung eks Balai Kota Batavia yang kini menjadi Museum Sejarah Jakarta (MSJ) masih menyisakan berbagai kisah kehidupan Kota Batavia. Kisah gedung itu sendiri pun masih menarik disimak, berpadu dengan berbagai koleksi yang bukan hanya bisa dinikmati tapi yang paling penting, bisa dipelajari. Masuk ke gedung bekas Stadhuis atau Balai Kota Batavia, menuju halaman belakang, tersimpan pula beberapa koleksi yang menyatu dengan taman belakang. Sebut saja Patung Hermes, Meriam Si Jagur, dan Prasasti atau Monumen Pieter Erberveld.

Di bagian lain dari gedung itu terdapat tangga melingkar menuju loteng. Tangga tersebut berasal dari balai kota lama, yaitu balai kota kedua yang dibangun 1626 dan kemudian direnovasi beberapa kali. Di masa masih berfungsi, tangga tersebut menghubungkan ke loteng gedung balai kota. Di loteng itulah gudang arsip balai kota berada. Dari loteng ini, ada tangga lain yang sangat curam, menuju ke menara di mana lonceng menara balai kota berada.
Read more…

Bookmark and Share

Artikel Jaduls

Voetbal di Batavia

July 29th, 2010

Piala Dunia 2010 sudah berakhir. Tim Oranje belum beruntung melawan Spanyol di final. Bagaimanapun, Belanda memperkenalkan sepak bola ke Hindia Belanda. Ada baiknya kita sedikit menengok tentang voetbal (sepakbola) di Batavia. Di akhir tahun 1920, pertandingan voetbal atau sepak bola seringkali digelar untuk meramaikan pasar malam.

Pertandingan dilaksanakan sore hari. Sebenarnya selain sepak bola, bangsa Eropa termasuk Belanda, juga memperkenalkan olahraga lain seperti kasti, bola tangan, renang, tenis, hoki, dll. Hanya saja semua jenis olahraga itu hanya terbatas untuk kalangan Eropa, Belanda, dan Indo. Jadi sangat eksklusif. Alhasil sepak bola paling disukai karena tidak memerlukan tempat khusus dan pribumi boleh memainkannya. Read more…

Bookmark and Share

Artikel Jaduls

Industri Sepeda ‘Baru’, tetapi Bekas

July 1st, 2010
KOMPAS/ AHMAD ARIF
Faizin (41), pedagang sepeda di Pekalongan, Jawa Tengah, menunjukkan sepeda bekas yang sudah dicat ulang dengan warna-warni yang digemari anak-anak muda setempat. Sementara, di latar depan, sepeda bekas yang belum direparasai dan dicat ulang.

”Mereka (Belanda) meruntuhkan jembatan dan memerintahkan warga Kota Pekalongan untuk mencopot rantai sepeda dan membuangnya ke sungai agar sepeda-sepeda itu tak bisa digunakan oleh musuh (Jepang)”.

Kutipan di atas ditulis oleh Anton Lucas dalam buku One Soul One Struggle, 1991. Tulisan itu menggambarkan suasana ketakutan menjelang kedatangan Jepang tahun 1942. Jepang dikhawatirkan menggunakan sepeda-sepeda di Pekalongan untuk mempercepat pergerakan pasukannya menguasai Pulau Jawa, yang waktu itu masih berada di tangan Belanda. Read more…

Bookmark and Share

Artikel Jaduls

Setelah Pit Dral, Kini Pit Jepang

July 1st, 2010

Oleh: Amir Sodikin dan Ahmad Arif

KOMPAS.com – Siapa bilang anak-anak sekolah malu bersepeda? Tengoklah suasana di seputaran Kota Pekalongan, Jawa Tengah, saat jam berangkat atau pulang sekolah. Jalanan di kota batik itu disesaki siswa-siswi yang bersepeda.

Sepeda-sepeda yang mereka pakai nyaris seragam bentuknya: sepeda jengki dengan keranjang di depan, yang biasanya dipenuhi buku dan tas sekolah. Siswa dan siswi sama saja, menggunakan sepeda jengki berkeranjang itu. Salah satu jalan paling ramai dengan sepeda pada pagi hari adalah Jalan Seruni, jalur alternatif yang menghubungkan Pekalongan dengan Kabupaten Batang.

Sejak pukul 06.00 hingga 07.00, jalanan itu dipenuhi lalu lalang pelajar bersepeda. Kemudian setelah pukul 08.00 sampai 09.00, giliran para pekerja pabrik, buruh harian, dan karyawan toko dari arah Batang menyerbu Pekalongan. Siang serta sore harinya, siswa dan dan pekerja menyusur arah sebaliknya dengan sepeda.

Dari depan SMP Negeri 7 Pekalongan di Jalan Seruni, keriuhan pesepeda itu terekam jelas. Sepanjang sekitar empat jam pada pagi hari dan dua jam pada sore hari, arus kereta angin ini terus mengalir tanpa henti. Sebagian berujung dan bermula di parkiran sekolah itu. Read more…

Bookmark and Share

Artikel Jaduls

Menjadi Kanak-kanak Kembali dengan Mainan dari Kaleng

June 28th, 2010

Sepintas, para penggemar mainan kaleng lawas atau zadul ini seperti kurang kerjaan. Bayangkan, memelihara kaleng karatan! Bagi mereka, hobi ini menjadi sarana mengenang masa kecil sekaligus menjaga sifat kekanakan dalam diri.

Jadi, jangan heran kalau bapak dan anak sama-sama kepingin membeli mainan. Kalau anak minta dibelikan mainan yang sedang tren, orangtuanya justru melongok pojok ruangan toko. Barangkali ada mainan kaleng bikinan tahun 70-an teronggok.

”Saya pernah diprotes anak-anak gara-gara hobi ini. Maka, saya pun harus membelikan mainan buat tiga anak laki-laki saya. Barulah impas,” ujar Denny Yuriandi, Produser News Feature di RCTI, yang sudah mengoleksi mainan kaleng sejak sepuluh tahun lalu.

Mainan kaleng milik Budi Surachmat pernah rusak gara-gara diutak-atik anaknya. Ia pun menyimpannya rapat-rapat. ”Saya bilang ke anak, ini bukan barang mainan. Padahal, ya mainan ha-ha-ha,” kata anggota komunitas yang berprofesi arsitek itu.
Read more…

Bookmark and Share

Mainan Jaduls

Nostalgia Masakan Jawa Plus Mainan Tempo Dulu

June 28th, 2010

Panas akibat teriknya sinar matahari siang pada Sabtu (10/4) langsung sirna ketika memasuki Restoran Goela Djawa. Bukan hanya karena pendingin udara atau kipas angin, tapi lebih karena mata dan lidah jadi terasa ’sejuk’ berkat hidangan yang ada di sana. Ketika pintu restoran yang berada di Jalan RS Fatmawati Raya No 19 & 69 Jakarta Selatan itu dibuka, sajian makanan Jawa bisa langsung terlihat secara prasmanan di meja. Sekitar 30 menu, termasuk nasi kucing, langsung terlihat mata.

Belum sempat duduk,  mata kembali melihat deretan penganan serta mainan tempo doeloe yang membuat ingatan kembali ke masa belasan atau puluhan tahun silam, saat masih kanak-kanak. Ada permen payung, cokelat cap ayam jago, permen Davos, permen susu gambar sapi berwarna oranye, kue kancing, dan masih banyak lagi penganan tempo doeloe yang membuat tergiur untuk mencicipinya lagi. Terlebih dikemas dalam toples warna-warni berbentuk seperti tempat kerupuk.

Harga bervariasi. Pengunjung bisa melihat harga yang tertera dalam kemasannya. Jika dibandingkan zaman dulu, harga sekarang memang lebih mahal, namun sebanding dengan ‘nilai nostalgia’ untuk mencicipi lagi penganan yang sudah ‘nyaris’ punah itu.

Tidak ketinggalan aneka permainan untuk anak kecil zaman dulu. Ada bekel dengan bijinya yang terbuat dari besi (sekarang bijinya sudah diganti plastik), congklak dari kayu dengan biji yang terbuat dari kerang (sekarang biji congklaknya kebanyakan terbuat dari plastik), perahu kelotok, kuda lumping, halma. Dan tak lupa teko lurik serta termos warna merah yang legendaris itu. Semua bisa dibeli.
Read more…

Bookmark and Share

Artikel Jaduls

Misteri HUT Kota Jakarta

June 28th, 2010

Tanggal 22 Juni, dipercaya, diyakini, dirayakan sebagai hari jadi Kota Jakarta. Percaya tidak percaya, setuju tidak setuju, sudah sejak sekitar 60 tahun lalu tanggal itu selalu dinanti warga karena berbagai keriaan yang digelar dalam rangka dirgahayu kota ini. Boleh sangat jadi, begitu banyak warga Jakarta yang tidak mengetahui bahwa hari jadi Kota Jakarta itu hingga kini masih kontroversial.

Penelitian terhadap kebenaran kapan sebenarnya kota ini lahir tampaknya tak juga dilanjutkan. Dengan demikian, 22 Juni masih tetap akan melekat dalam benak warga sebagai hari jadi Kota Jakarta.

Semua ini dimulai dengan SK Dewan Perwakilan Kota Sementara Djakarta Raja pada Februari 1956. Surat itu memutuskan bahwa hari lahir Jakarta adalah 22 Juni 1527. Angka, bulan, dan tahun itu didapat dari hasil penelitian Prof Dr Mr Sukanto dalam buku Dari Djakarta ke Djajakarta yang ditulis pada 1954.

Adalah Wali Kota Jakarta Sudiro, bertugas pada 1953-1960, yang kemudian mengamini hasil penelitian Sukanto dan menetapkannya sebagai hari jadi Kota Jakarta. Read more…

Bookmark and Share

Artikel Jaduls